MUTU DAN KEUNGGULAN PENDIDIKAN (1)

A.   Pemahaman tentang Mutu dan Keunggulan

Istilah mutu atau kualitas memiliki banyak definisi ber-beda dan bervariasi dari yang bersifat konvensional hingga bersifat strategis. Definisi konvensional mengenai kualitas biasanya menggambarkan karakteristik dari suatu produk (barang atau jasa) seperti kinerja (performance), kean-dalan (reliability), mudah dalam penggunaan (easy of use), estetika (esthetics), dan lain sebagainya. Sedangkan dalam definisi strategis dinyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan atau pengguna produk (meeting the needs of customers). Makna kualitas terdiri atas sejumlah keistime-waan produk, baik itu keistimewaan secara langsung atau keistimewaan tidak langsung yang dapat memenuhi kei-nginan pelanggan; dengan demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk (Gaspersz, 1997).

Juran (1989) mendefinisikan kualitas sebagai kemam-puan dalam mencapai tujuan (fitness for pupose). Menurut Crosby (1984) kualitas adalah kesesuaian dengan syarat-syarat yang ditetapkan (conformance to requirement).  Kualitas adalah menjaga janji pelayanan agar pihak yang dilayani merasa puas atau diuntungkan. Didasari oleh mak-na tersebut, upaya menetapkan kualitas sesuatu produk relatif sukar, karena adanya pihak yang menghasilkan dan pihak yang menggunakan. Kedua pihak tersebut dapat saja mengacu pada atribut yang berbeda, serta bertolak dari standar dan pola evaluasi yang berbeda pula. Jika kedua pihak hanya mengacu pada kepentingannya saja, maka penetapan kualitas menjadi sulit. Tetapi, pada umumnya mekanisme umpan balik dapat menghasilkan kesepakatan mengenai atribut dan standar yang akan digunakan dalam upaya penetapan kualitas. Penetapan atau evaluasi atas kualitas merupakan kesepakatan antara pihak-pihak yang berkepentingan mengenai atribut yang digunakan sebagai indikator kualitas. Hal ini akan bersifat relatif tergantung dari sudut pandang mana kualitas dilihat.

Berdasarkan kriteria yang mendasarinya, Robertshaw Kanwar, dan Suntavuruk (2001) mengklasifikasi kualitas dalam lima jenis yaitu:

  1. Kualitas sebagai hal yang luar biasa; kualitas jenis ini jarang dipakai untuk menunjukkan visi atau misi suatu lembaga pendidikan karena dianggap pencapaiannya terlalu berat. Kualitas jenis ini biasanya digunakan untuk menghargai seseorang atas dasar perilakunya pada masa yang lalu.
  2. Kualitas sebagai sesuatu yang mendekati kesempur-naan dan konsistensi. Kata-kata Center for Excellence (pusat keunggulan) menunjuk pada kualitas jenis ini. Kriteria yang digunakan untuk mengukur kualitas ini adalah kriteria yang ‘sempurna’. Banyak lembaga pen-didikan yang mendambakan kualitas jenis ini, hanya kualitas jenis ini yang dianggap layak diraih. Syarat tambahannya adalah bahwa kualitas ini harus secara konsisten dipertahankan dan atau ditingkatkan.
  3. Kualitas sebagai bentuk kecocokan dengan tujuan; kualitas ini diukur berdasarkan tujuan organisasi. Jika lembaga pendidikan menyatakan tujuan menjadi pusat pengembangan IPTEK, maka lembaga pendidikan ter-sebut dikatakan berkualitas jika mampu menghasilkan karya inovatif berbasis IPTEK.
  4. Kualitas sebagai hasil-sesuai-biaya (value for money). Kualitas dapat pula ditentukan oleh biaya yang dikelu-arkan untuk menghasilkan produk. Jika biaya sedikit tetapi memiliki banyak manfaat, produk tersebut dapat disebut berkualitas, meskipun dalam banyak hal kalah dengan produk lain yang serupa akan tetapi harganya (biayanya) berlipat ganda.
  5. Kualitas sebagai transformasi atau perubahan merujuk kepada produk sebelumnya. Bila produk sekarang lebih baik dari produk yang lalu, maka produk tersebut da-pat dianggap berkualitas meskipun masih kalah diban-dingkan dengan produk lain.

Dengan memperhatikan jenis-jenis kualitas tersebut di atas, kata ‘excellence’ dalam istilah ‘center for excellence mengandung makna sesuatu yang berkualitas dalam arti mendekati kesempurnaan yang secara konsisten diperta-hankan serta terus ditingkatkan.

Konsep excellence mulai dipopulerkan oleh Tom Peters dan Robert Waterman (1982) dalam buku yang berjudul “In Search of Excellence”. Keunggulan dalam hal ini adalah suatu karya dengan kualitas terbaik sebagai ciri utamanya. Dapat dikemukakan “bahwa Keunggulan  = Kualitas Terbaik”. Lembaga pendidikan dikatakan unggul jika mampu menunjukkan kualitas terbaiknya dibandingkan dengan lembaga pendidikan lain. Oleh karena itu, makna keunggulan tidak pernah terlepas dari kualitas.

Keunggulan dalam kehidupan sehari-hari sering dimak-nai sebagai ‘kelebihan’, ‘lebih baik’, atau ‘lebih berkualitas’. Istilah keunggulan sering pula digunakan untuk memposi-sikan suatu produk (barang atau jasa) dalam persaingan. Dalam hal ini dikenal dua jenis keunggulan yaitu keunggu-lan komparatif dan keunggulan kompetitif.

Keunggulan komparatif adalah keunggulan relatif suatu produk dalam perdagangan internasional yang diukur berdasarkan ratio nilai tukar suatu barang terhadap barang lain yang diproduksi suatu negara dibandingkan dengan nilai tukar barang-barang yang sama yang diproduksi oleh negara lain; Suatu negara dikatakan memiliki keunggulan komparatif terhadap negara lain apabila dalam produksi suatu komoditi tertentu dapat mengerjakan dengan biaya lebih rendah dibandingkan dengan komoditi alternatif yang tidak diproduksi.

Keunggulan kompetitif terkait dengan daya saing suatu produk yang relatif mapan sehingga mampu memasuki pasar tertentu dengan tingkat harga dan kualitas sesuai kebutuhan penggunanya. Produk yang memiliki keunggulan kompetitif biasanya didukung oleh pelayanan memadai sehingga memiliki daya saing dibandingkan dengan produk yang berasal dari sumber lain.

Keunggulan komparatif adalah keunggulan yang sudah disediakan, dimiliki tanpa perlu adanya suatu upaya. Keka-yaan alam yang dimiliki oleh suatu wilayah adalah contoh nyata keunggulan komparatif. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, hal ini merupakan keunggulan komparatif. Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih tertinggal karena belum banyak memiliki keunggu-lan kompetitif. Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang timbul karena ada suatu upaya yang dilakukan untuk mencapainya. Contoh negara yang memiliki keunggulan kompetitif adalah Jepang. Jepang menjadi negara maju karena memiliki keunggulan kompetitif walaupun dari segi keunggulan komparatif jauh di bawah Indonesia. Pemerin-tah Jepang sangat peduli terhadap pendidikan sehingga memiliki SDM unggul dalam memenangkan persaingan.

Apabila kedua jenis keunggulan tersebut dibandingkan, maka negara yang memiliki keunggulan kompetitif adalah negara yang maju. Indonesia banyak memiliki keunggulan komparatif tapi tidak banyak memiliki keunggulan kom-petitif, sehingga kalah maju jika dibandingkan Singapura, Jepang, dan lain-lain. Secara geografis, Singapura memiliki keunggulan komparatif yaitu letaknya yang strategis pada jalur pelayaran. Dengan keunggulan komparatif seperti ini pemerintah Singapura lebih menitikberatkan untuk menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara. Infrastruktur trans-portasinya diperkuat. Pemerintah Singapura tidak condong menjadi negara yang unggul di bidang manufaktur tapi unggul dalam sistem perdagangan. Ini adalah contoh per-paduan antara keunggulan komparataif dan kompetitif yang dimiliki Singapura, sehingga menjadi negara maju.

Tantangan kehidupan saat ini lebih mengutamakan ke-unggulan kompetitif dibandingkan keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif menekankan pada keunggulan kai-tannya dengan sumber daya yang disediakan. Sedangkan keuntungan kompetitif bersandar pada penguasaan IPTEK serta informasi. Atas dasar pemahaman tersebut, yang dimaksud dengan ‘keunggulan/excellence’ pada istilah ‘Center for Excellence’ adalah jenis keunggulan kompetitif yaitu keunggulan yang diraih melalui suatu upaya.

B.   Meningkatkan Mutu; Meraih Keunggulan

Keunggulan individu ataupun organisasi dapat diraih apabila senantiasa berusaha menghasilkan karya dengan kualitas terbaik. Untuk menciptakan keunggulan, individu atau organisasi perlu melakukan perbaikan terus-menerus. Perbaikan selalu diikuti perubahan dan perubahan biasanya tidak lepas dari risiko. Tanpa keberanian mengambil risiko, tidak akan ada perubahan menuju arah perbaikan. Tentu saja risiko yang diambil terlebih dahulu dipertimbangkan dalam sebuah perencanaan yang matang.

Sejumlah tips atau strategi manajemen untuk meraih keunggulan belakangan ini telah banyak dikembangkan. Peters dan Waterman (1982) dalam bukunya In Search of Excellence mengemukakan tujuh unsur yang didasari oleh ‘Model McKinsey-7S’ yang harus diperhatikan dalam meraih keunggulan yaitu:

  1. Strategi: perencanaan yang matang untuk mencapai sasaran yang dikenali atau tujuan yang ditetapkan.
  2. Struktur: struktur organisasi yang memiliki sifat fung-sional dan desentralisasi.
  3. Sistem: hal yang biasa dilakukan dalam memproses dan menyampai­kan informasi.
  4. Staf: kategori orang yang dipekerjakan.
  5. Style: bagaimana manajer berperilaku dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
  6. Skills: keterampilan karyawan melaksanakan tugas.
  7. Shared Value: konsep atau nilai yang diinspirasikan olah manajer kepada karyawannya.

Banyak praktisi bisnis biasanya berupaya menciptakan image positif di mata target/ sasaran atau calon pelanggan bagi produk yang dihasilkannya. Namun, Peters mengusul-kan lain, yaitu menciptakan image positif dalam persfektif perusahaan/organisasi. Kesuksesan dalam persaingan yang super ketat perlu membenahi dulu kondisi internal organi-sasi, terutama SDM-nya. Organisasi perlu menciptakan image positif di mata karyawan dengan cara menghargai karyawan serta mengapresiasi ide-ide mereka. Karyawan perlu dimotivasi untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Organisasi dan karyawan perlu memiliki komitmen emosional untuk saling mendukung dan mema-jukan dalam hubungan saling menguntungkan. Kondisi ”internal” organisasi yang positif dengan sendirinya akan terpancar keluar dan akan dapat dirasakan oleh lingkungan tempat dimana organisasi tersebut beraktivitas.

Perjuangan untuk selalu menghasilkan yang terbaik dan usaha memperbaiki diri secara internal merupakan dua kunci sukses meraih keunggulan. Prinsip ini tidak hanya dapat diterapkan oleh pelaku bisnis dalam persaingan yang semakin ketat, tetapi oleh siapa pun yang ingin sukses dalam kegiatan yang ditekuni termasuk oleh lembaga pendidikan dalam meraih keunggulan.

Goldsmith dan Clutterbuck (1984) dalam bukunya The Winning Streak mengemukakan delapan sifat organisasi yang harus muncul dalam meraih keunggulan yaitu:

  1. Kepemimpinan: sebagai pusat pertumbuhan organisasi yaitu pemimpin yang mampu mengga­bungkan antara kewibawaan dengan kebijaksanaan dalam memotivasi orang-orang yang ada di sekitarnya serta memberikan rasa memiliki misi bagi organisasi secara keseluruhan.
  2. Otonomi: yang memberikan kebebasan mengerjakan sebagian besar pekerjaan secara efektif. Variasi yang tepat harus dibuat dalam mengintegrasikan otonomi dan pengendalian agar tidak bertolak belakang.
  3. Pengendalian (Control) yang efektif sehingga otonomi tetap berkembang. Yang diharapkan bukan kuantitas pengendalian tapi keseimbangan pengendalian. Sedikit pengendalian yang baik (konsisten) diyakini jauh lebih efektif dibandingkan dengan banyak pengendalian te-tapi selalu dilanggar.
  4. Keterlibatan dari semua pihak.Organisasi yang berhasil mendapatkan banyak sekali keterikatan dan kesetiaan karyawannya pada semua tingkat.
  5. Orientasi pelanggan yaitu mampu memenuhi harapan pelanggan. Perusahaan/organisasi yang gagal berarti hidup dalam harapannya sendiri; sebaliknya organisasi yang berhasil mampu memenuhi harapan pelanggan atau stakholders-nya.
  6. Kembali ke hal-hal dasar (back to basic). Organisasi yang berhasil mengetahui apa kegiatan utama mereka dan mengapa mereka ada di dalamnya; mereka tahu bagaimana cara menetapkan kegiatan serta menetap-kan target/sasarannya.
  7. Pembaharuan yaitu menciptakan suatu suasana yang mampu mendorong pembaharuan dan bertindak atas dasar buah pikiran yang menjanjikan.
  8. Integritas yaitu upaya membangun dan menjaga repu-tasi melalui perlakuan yang adil serta memberikan kepercayaan pada karyawan, pelanggan, atau stake-holders lainnya.

Heller (1982), dalam bukunya The Business of Success mengemukakan bahwa kesuksesan dapat dibangun atas dasar lima karakteristik yang membentuk sebuah akronim OMMIT yaitu:

  1. Objectives (Sasaran): yang didefinisikan dengan jelas serta usaha dilakukan untuk memenuhinya.
  2. Market (Pasar): kesempatan pasar atau dengan kata lain harapan pelanggan dikenali secara cermat agar usaha yang dilakukan dapat mencapai hasil optimal.
  3. Money (Uang): peranan serta kegunaannya sebagai sumber daya dipahami dan digunakan dengan jelas.
  4. Information (Informasi): informasi yang lengkap dan akurat untuk menunjang pengambilan keputusan.
  5. Team (Kelompok): manajemen diselenggarakan agar karyawan bekerja secara kelompok.

Setiap organisasi yang menghilangkan salah satu dan faktor-faktor tersebut akan menghadapi kerugian. Mana-jemen yang efektif sangat dibutuhkan untuk setiap faktor tersebut. Bahkan, uang hanya akan mendatangkan hasil jika digunakan dengan benar.

Meski banyak organisasi berharap meraih keunggulan, namun banyak di antara mereka yang gagal ketika mulai tumbuh dan berkembang. Kata kunci meraih keunggulan bukan hanya sekedar tumbuh dan berkembang. Diperlukan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Memahami hasil riset yang dilakukan terhadap beberapa perusahaan ternama dunia dapat dikemukakan beberapa kunci sukses untuk menjadikan sebuah organisasi yang tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang unggul yaitu:

  1. Keterbukaan terhadap beragam perubahan. Organisasi yang unggul memiliki kemampuan untuk mengantisi-pasi perubahan, mempersiapkan diri menghadapi peru-bahan, menyesuaikan diri terhadap perubahan, bahkan menikmati fase perubahan itu sendiri.
  2. Kepemimpinan yang kuat. Prinsip kepemimpinan yang diterjemahkan dalam konsep ‘super-leadership‘ yaitu pemimpin yang mampu membuat dalam diri setiap pengikutnya berkembang subur jiwa kepemimpinan paling tidak memimpin dirinya sendiri; kepemimpinan yang mewajibkan pemimpin turut serta membangun kekuatan dari tengah bersama pengikutnya dan men-dorong/memotivasi dari belakang. Konsep ini dikenal dengan prinsip “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Sebuah prinsip kepemimpinan yang sukses dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara.
  3. Sistem yang memungkinkan inovasi berlangsung tiada henti. Hal ini penting dilakukan sehubungan dengan keinginan utama dari setiap organisasi untuk menjadi organisasi yang unggul. Dengan adanya inovasi, core competencies yang dijalankan organisasi saat ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Inovasi seperti ini telah banyak dilakukan oleh pelaku bisnis kelas dunia.
  4. Tanpa disiplin dan komitmen yang kuat dari pihak manajemen puncak, akan sulit bagi organisasi untuk mencapai keunggulan.
  5. Reward system yang baik. Setiap individu pasti memi-liki derajat resistensi tertentu dalam menerima setiap perubahan. Dengan adanya suatu sistem penghargaan (reward system) yang baik, tingkat resistensi dapat diminimalisasi. Intinya semua karyawan ingin dihargai sesuai kinerjanya. Reward system berbasis kinerja sangat cocok untuk diterapkan.

Apabila kelima kunci sukses tersebut dapat diterapkan dengan baik, peluang organisasi untuk meraih keunggulan menjadi lebih terbuka sehingga visi dan misi organisasi dapat terlaksana dengan baik. Setiap organisasi memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembangan menjadi unggulan jika mampu dan konsisten menerapkan kunci sukses tersebut.

C.   Mutu/Kualitas Penyelenggaraan Pendidikan

Mutu atau kualitas penyelenggaraan pendidikan telah menjadi persoalan krusial dalam konteks peningkatan kua-litas SDM. Semua pihak memandang pentingnya pendidi-kan yang berkualitas. Pihak yang dianggap paling berke-pentingan dengan kualitas pendidikan adalah peserta didik dan para calon penguna hasil didik dapat berupa industri dan lembaga perusahaan, instansi pemerintahan, serta masyarakat dalam arti luas.

Salah satu komponen lembaga pendidikan yang paling mudah untuk dinilai adalah masukan misalnya berapa jumlah pendidik/staf, peserta didik, gedung, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya serta bagaimana kualifikasi masing-masing. Di masa lalu hanya ukuran masukan inilah yang biasa dipergunakan dalam menilai kualitas lembaga pendidikan. Paradigma baru menghendaki bahwa kualitas harus diukur pula atas dasar produk yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan, namun untuk mengetahuinya harus dilakukan penelitian secara seksama dan terus-menerus. Sementara itu, kualitas proses lebih sulit diperoleh, karena sifatnya yang subjektif. Apa yang terjadi saat pembelajaran jarang terperhatikan. Padahal kualitas proses ini dapat menunjukkan ada atau tidak adanya pendidikan bermutu. Dalam melaksanakan dan mengevaluasi mutu pendidikan, masalah-masalah itu perlu mendapat perhatian tersendiri.

Hoy dkk. (2000) menjelaskan bahwa kualitas pendidi-kan adalah suatu hasil evaluasi terhadap proses pendidikan dengan harapan yang tinggi untuk dicapai. Setiap lembaga pendidikan harus menentukan sifat dan kualitas tertentu yang akan dicapainya. Lembaga pendidikan harus menge-tahui dengan tepat apa sasaran-sasarannya, paling tidak untuk hal-hal seperti berikut: (1) Peserta didik yang harus dilayani; (2) Program pendidikan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan belajar; (3) Kualifikasi tenaga pendidik dan kependidikan yang diperlukan; (4) Prioritas pendidikan dan pengembangan IPTEK; (5) Sumber dana dan penggu-naannya; serta (6) Konteks atau relevansi pendidikan de-ngan kebutuhan pembangunan.

Sebagai salah satu acuan penilaian kualitas penyeleng-garaan pendidikan, Dirjen Dikti (1996) mengajukan tujuh karakteristik sebagai atributnya yaitu:

  1. Relevansi tujuan dan sasaran, dalam arti derajat kese-suaian antara tujuan dan sasaran lembaga pendidikan dengan aspirasi dari semua pihak yang berkepentingan serta dengan keperluan nyata masyarakat, industri dan pemerintah;
  2. Efisiensi, dalam arti derajat kehematan penggunaan sumber daya/dana untuk mencapai tujuan dan sasaran (keterkaitan antara masukan proses);
  3. Produktivitas, dalam arti kuantitas keluaran (dalam hal ini hasil, karena dampak sukar untuk dikuantifikasi) diperhitungkan terhadap satuan sumber daya tertentu yang digunakan (seperti: lulusan per satuan waktu dan lain-lain yang menunjukkan keterkaitan antara proses dan keluaran);
  4. Efektivitas, dalam arti derajat kesesuaian antara tuju-an dan sasaran dengan keluaran (hasil dengan mem-perhitungkan dampak);
  5. Akuntabilitas, dalam arti pertanggungjawaban lembaga pendidikan (pimpinan dan pribadi) mengenai segala sesuatu yang dilakukan dalam fungsi pendidikan. Pertanggungjawaban tersebut harus mengacu pada: (a) peraturan yang berlaku secara umum (di masya-rakat) dan khusus (di lingkungan pendidikan); (b) kejujuran dan kebenaran akademik dan profesi; serta (c) tata nilai, moral dan etika yang dianut;
  6. Pengelolaan sistem dalam arti kemampuan lembaga pendidikan menyesuaikan diri atau mengadaptasi diri terhadap perubahan yang terjadi dalam masyarakat (lingkungan kerja, sosial, ekonomi, budaya dll.);
  7. Suasana akademik atau iklim organisasi, dalam arti derajat motivasi dan kepuasan kerja pendidik dan tenaga kependidikan dalam pelaksanaan fungsinya.

Upaya penetapan kualitas kinerja atau hasil (output) lembaga pendidikan menjadi lebih sulit, karena banyaknya pihak yang berkepentingan antara lain pimpinan lembaga pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan, peserta didik, pemerintah, industri serta pengguna hasil (lulusan, pengembangan IPTEK, dll.). Masing-masing pihak dapat saja menekan agar kepentingan dan kepeduliannya yang harus digunakan sebagai acuan dalam menetapkan kualitas pendidikan. Dalam masyarakat yang dinamis, kepentingan dan kepedulian tersebut dapat berubah seiring perjalanan waktu. Hal ini berpengaruh pada kepentingan terhadap kualitas pendidikan. Dengan demikian lembaga pendidikan harus mampu merencanakan, menjalankan, dan mengen-dalikan proses yang dapat menjamin pencapaian kualitas.

Kualitas pendidikan bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Kualitas pendidikan merupakan hasil dari suatu proses pendidikan. Jika suatu proses pendidikan berjalan baik, efektif dan efisien, akan terbuka peluang yang sangat besar memperoleh hasil pendidikan berkualitas. Kualitas pendidikan mempunyai kontinum dari rendah ke tinggi. Dalam konteks pendidikan sebagai suatu sistem, kualitas pendidikan dapat dipandang sebagai variabel terikat yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kepemimpinan, iklim organisasi, kualifikasi pendidik, anggaran, kecukupan fasilitas belajar, dan sebagainya.

Sallis (2002) menyatakan: “Terdapat banyak sumber kualitas dalam pendidikan, misalnya sarana gedung yang bagus, pendidik yang profesional, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan stakeholders, sumber daya memadai, aplikasi teknologi mutakhir, kepemimpinan yang efektif, perhatian terhadap peserta didik, kurikulum yang memadai, dan juga kombinasi dari faktor-faktor tersebut”. Sumber-sumber ini dapat dipandang sebagai faktor-faktor pembentuk kualitas pendidikan, atau faktor-faktor yang turut mempengaruhi kualitas pendidikan. Mutu yang dimaksud dalam pendidikan mencakup mutu suatu pelayanan yang dapat dinilai oleh semua stakeholders serta mutu produk jasa pendidikan yang mampu menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

BAERSAMBUNG ……………….!

About these ads

5 Komentar

  1. saya tertarik dengan tulisan ini . mohon referensi daftar pustakanya. saya butuh sumber aslinya. telp saya 02171411511. terimakasih.

    • Salam Pendidikan….!
      Terimakasih atas apresiasinya. Tulisan ini merupakan bagian awal dari naskah akademik “Sistem Penjaminan Mutu dalam Mewujudkan Lembaga Pendidikan sebagai CENTER FOR EXCELLENCE” yang saya tulis. Masih ada empat bagian lain termasuk daftar pustakanya yang belum saya up-load. Jika tertarik dengan naskah ini bisa menghubungi saya di csuryana@gmail.com.

      • pa,.. yenny tertarik pa,.. boleh kah?? :D

  2. apa kabar pa ? saya salut sekali dengan cara mengajar bp sangat mudah untuk dicerna dan dipahami. thank u so much ! hatur nuhun .

  3. sumber kualitas dalam pendidikan seandainya ada seperti yang bp tulis pastilah pendidikan kita akan cepat segera setara dengan negara-negara maju, walaupun tidak harus diberi label SBI atau RSBI. Sehingga masyarakat dapat memilih sekolah yang benar-benar mempunyai mutu Interbnasional walaupun tidak diberi label2 di atas. Sayang sekali yang ada di sekolah kita yang merupakan ujung tombak pendidikan masih jauh panggang dari api.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.