CATATAN KECIL DARI VISI-MISI CALON PEMIMPIN NEGERI

By: Dr. Cahya Suryana

Terlepas dari siapa yang merumuskannya, beberapa waktu lalu dua pasang calon pemimpin negeri  ini Prabowo Subiyanto – Hatta Rajasa (PS/HR) dan  Joko Widodo – Jusuf Kalla (JW/JK) menyerahkan dokumen visi-misi ke KPU. Visi yang dirumuskan PS/HR: “Membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermartabat”. Visi yang dirumuskan JW/JK: “Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”.

Sesuai judul tulisan (namanya juga catatan kecil), saya tidak akan membahas visi-misi dari aspek substantif. Saya justru lebih tertarik membahasnya dari aspek redaksional. Ada hal menarik dari keduanya, menurut saya serupa tapi tak sama. PS/HR mengawali rumusan visinya dengan kata kerja “membangun”, sedangkan JW/JK mengawali rumusan visinya dengan kata benda “terwujudnya”.

Penasaran dengan perbedaan tersebut, saya kemudian melakukan perjalanan intelektual menelusuri berbagai literatur untuk memahami hakikat “visi” dan “misi”. Berkat jasanya Mbah Google, perjalanan tersebut berujung pada dua sintesis.  Visi adalah jawaban atas  pertanyaan “mau menjadi apa (what) kita nanti?”. Substansi visi adalah produk yang akan dihasilkan. Misi adalah jawaban atas pertanyaan “apa yang akan dilakukan (how) untuk mencapai visi?”. Substansi misi adalah proses yang akan dilaksanakan untuk menghasilkan produk. Ketika visi berbicara mengenai apa (what) yang dicita-citakan, dalam konteks yang sama, misi berbicara tentang bagaimana (how) upaya yang dilakukan untuk mencapai cita-cita. Berbekal dua sintesis, saya coba menulis lima catatan kecil tentang visi-misi PS/HR dan JW/JK.

Pertama: PS/HR keliru dalam mengemukakan visi.  Penggunaan kata “membangun” dalam rumusan visi PS/HR tidak tepat, tidak merefleksikan tentang apa yang dicita-citakan. Kata “membangun” adalah “kata kerja” yang lebih tepat jika digunakan untuk mengawali rumusan misi. Menurut hemat saya, rumusan visi PS/HR seharusnya “Terwujudnya Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermartabat”; atau langsung saja dirumuskan “Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermartabat”. Sehingga lebih jelas apa yang dicita-citakan.

Kedua: berbeda dengan PS/HR, JW/JK mengawali rumusan visinya dengan kata “terwujudnya”.  Rumusan visi dengan tegas menunjukkan sebuah harapan/cita-cita yang akan diraih melalui program pemerintahan yaitu: “Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”.

Ketiga: jika dimaknai lebih mendalam, program pemerintahan JW/JK akan berujung pada “produk” baik itu dalam bentuk barang (seperti tersedianya fasilitas publik) ataupun jasa (seperti tersedianya layanan publik). Indikator keberhasilan pemerintahan JW/JK adalah kesuksesan program yang ditunjukkan oleh keberadaan produk-produk tersebut. Akibat kekeliruan rumusan visi, program pemerintahan PS/HR akan berujung pada “proses”. Indikator keberhasilan pemerintahan PS/HR adalah proses keterlaksanaan program, terlepas dari keberhasilan ataupun kegagalan program tersebut. Pemaknaan tersebut adalah konsekuensi logis jika setiap kedua pasangan “konsisten” dengan rumusan visi yang telah dibuatnya.

Keempat: rumusan visi JW/JK diikuti definisi konseptual dari setiap kata kunci yang terkandung dalam visi. Definisi tersebut dengan tegas mengemukakan indikator pencapaian visi secara spesifik dan terukur yaitu “kedaulatan, kemandirian, kepribadian, dan gotong-royong”. Penjelasannya terlihat mengarah pada kaidah SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Sementara itu, rumusan visi PS/HR tidak diikuti oleh definisi konsep dari setiap kata kunci. Terdapat empat atau lima kata kunci dalam visi PS/HR yang seharusnya mendapat penjelasan spesifik yaitu “bersatu, berdaulat, adil dan makmur, serta bermartabat”.

Kelima: JW/JK merumuskan misi secara terperinci dalam “tujuh” point untuk mewujudkan “empat” kata kunci yang terkandung dalam visi. Jumlah misi lebih banyak dari kata kunci. Misi ke-1, ke-2, dan ke-3 terkait dengan visi kedaulatan.  Misi ke-4, ke-5 dan ke-6 terkait dengan visi kemadirian. Misi ke-7 terkait dengan visi kepribadian termasuk internalisasi budaya gotong royong. Rumusan misi PS/HR hanya terdiri dari “tiga” point sebagai upaya mewujudkan “lima” kata kunci yang terkandung dalam visi. Jumlah misi lebih sedikit dibandingkan jumlah kata kunci. Misi ke-1 terkait dengan visi persatuan dan kedaulatan, point ke-2 terkait dengan visi keadilan dan kemakmuran, point ke-3 terkait dengan visi bangsa yang bermartabat. Misi yang ditulis sebaiknya dirinci minimal dalam lima point, mengacu pada setiap kata kunci yang terkandung dalam visi.

Apa yang saya kemukakan hanyalah “catatan kecil”, sekali lagi hanya “catatan kecil” yang membahas sebagian kecil dari yang besar; tanpa ada maksud black campaign atau negative campaign terhadap salah satu pasangan. Su’udzon-nya, mungkin catatan ini hanya berisi pemahaman yang sangat dangkal dalam mengungkap makna dibalik visi dan misi calon pemimpin negeri. Husnudzon-nya, mungkin catatan ini adalah kritik konstruktif untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya, termasuk menempatkan dan merumuskan kata-kata yang tepat dalam rumusan visi-misi. Semuanya tergantung penilaian pembaca. Salam…! (CS/06/2014).

Sumber: http://www.kpu.go.id/koleksigambar/VISI_MISI_prabowo-Hatta.pdf ; http://kpu.go.id/koleksigambar/VISI_MISI_Jokowi-JK.pdf

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s